Catopuma badia
Kucing Merah Kalimantan
Rekaman Temuan
Saat ini kami belum memiliki rekaman temuan spesies ini. Namun, berbagai laporan menunjukkan bahwa kucing merah Kalimantan memang hadir di kawasan ini.

Deskripsi
Kucing Merah Kalimantan adalah spesies kucing liar endemik Pulau Borneo dan terkenal sangat sulit dijumpai maupun tertangkap kamera. Spesies ini umumnya bersifat diurnal (aktif pada siang hari), dengan tingkat aktivitas tertinggi sebelum tengah hari. Kucing ini lebih menyukai area inti hutan yang masih utuh, lebih sering terdeteksi jauh dari jalan utama, dan sebagian besar menempati kawasan dataran rendah (umumnya di bawah 1.000 m). Pengamatan lapangan menunjukkan bahwa mereka dapat ditemukan hingga sekitar 1.460 m dan sesekali muncul di hutan semi-terbuka, meski toleransinya terhadap habitat yang terganggu sangat rendah.
Status Konservasi: Terancam Punah
Profil Ekologi
Hutan hujan tropis dataran rendah dan perbukitan yang lebat, primer, maupun semi-alami, termasuk hutan rawa gambut dan hutan campuran dipterokarpa di sekitar sungai dan lahan basah. Kucing merah diketahui menghindari area perkebunan terbuka serta kawasan yang ditempati manusia.
Sangat sulit dijumpai dan jarang terekam, sehingga perilakunya belum banyak diketahui. Spesies ini diyakini lebih sering beraktivitas di tanah dan aktif menjelang senja hingga malam hari, meskipun beberapa pergerakan siang hari juga pernah tercatat.
Masih sangat sedikit informasi akibat minimnya observasi. Kucing Merah Kalimantan kemungkinan memangsa mamalia kecil (seperti tikus), burung, reptil, dan kemungkinan bangkai. Tubuhnya yang berotot menunjukkan kemampuannya menangani mangsa berukuran relatif besar.
Ciri Fisik
Tubuh dan Bentuk
Ukuran tubuh sebanding dengan kucing rumah yang besar, namun dengan postur lebih berotot dan kuat. Ekornya yang relatif panjang membantu menjaga keseimbangan saat bergerak di bawah lapisan hutan yang rapat.
- Panjang Tubuh–Kepala: ±50–60 cm
- Panjang Ekor: ±30–40 cm
- Berat: ±3–4 kg
Sebaran di Kalimantan Barat
(Berdasarkan data dari IUCN)
